The Beauty of Insecurities: Cerita Bareng Ian Hugen

January 26, 2021

“Aku adalah seorang transpuan dan aku bangga akan itu. I’m owning it,” Ian Hugen.

Disaat yang lain berpendapat bahwa yang dialami seorang Ian Hugen ialah sebuah kekurangan. Bahkan, keburukan. Tidak demikian dengan dirinya dan keluarganya. Ia memang melewati berbagai proses yang tidak mudah. Hingga akhirnya, keputusannya menjadi seorang wanita dapat diterima di masyarakat.

Namun, setiap perjuangan dan kegigihannya tidak sia-sia begitu saja. Saat ini, Ian Hugen dikenal sebagai salah satu sosok inspiratif bagi begitu banyak kaum muda. Berprofesi sebagai content creator dan penulis, ia menginspirasi begitu banyak followers-nya di sosial media. Ia pun membagikan kisahnya kepada tim Ruhee. Dimana wawancara dan dokumentasi, kami lakukan dari rumah dan tempat aman masing-masing.

Foto dok. Zsazsa Caesar

Hi saya Ian Hugen. Saya adalah seorang content creator dan penulis.

  • Apa yang menjadi sisi insecurity terbesar di hidupmu?  

Dulu aku sempat tidak suka dengan bentuk rahangku. Aku merasa wajah ‘kotak’ ini membuatku terlihat gendut. It makes me look very masculine for some way. Tetapi hari ini aku sudah berhasil overcome hal tersebut. Namun jika ditanya soal rasa insecurities-ku hari ini. Hmm..  I don’t say that I don’t have any insecurities, hanya saja tidak ada lagi yang menjadi big deal.

  • Kapan awalnya kamu menemukan sisi feminin di dirimu?

Wah a long time ago. Ini sudah aku rasakan sejak TK B. Dari sebelum aku duduk di bangku Sekolah Dasar.  

  • Saat itu, bagaimana dirimu dan sekelilingmu meresponi keunikan tersebut?

Saat itu berarti di masa lalu ya. Sama seperti anak-anak pada umumnya. Awalnya aku dan keluargaku, kita semua biasa saja meresponi perbedaan ini. I am raised in a very liberal and open-minded family. So, we felt that there’s nothing’s wrong with my condition.

Kemudian saat memasuki masa remaja, seperti anak remaja laki-laki pada umumnya, aku merasa trapped in a wrong body. Awalnya aku denial. Terutama karena aku tumbuh besar di lingkungan sekolah yang cukup agamis. Dimana kondisi yang aku alami dianggap menjijikkan, salah dan berdosa.

  • Ceritakan prosesmu menerima diri sendiri.

Awalnya, aku menganggap perbedaan ini sebagai suatu kekurangan. Makanya aku tidak pernah merasa puas dan merasa worth it. Aku lahir dan besar selama kurang lebih tujuh belas tahun di Makassar. Sampai akhirnya, aku pindah ke Jakarta di tahun 2017 and then I finally (dengan begitu panjang cerita dan prosesnya) melihat diriku sendiri sebagai sosok yang berbeda. Akhirnya ketemu klik momennya bahwa ternyata selama ini aku melihat diriku dengan kacamata dan pandangan yang salah.

Dulunya, aku memandang perbedaan ini sebagai kekurangan. Padahal kalau dibalik ‘kacamata’-nya, ditelaah lebih dan lebih lagi, perbedaan ini bukanlah suatu kekurangan melainkan sebuah keunikan! And there’s nothing wrong on being different.

Perspective matter. Cara kita memandang diri kita sendiri lebih penting daripada cara orang lain melihat kita. How you see ourselves first is more important than others. If you think you are beautiful, then you are.  

  • Transgender, transwoman, queer, ada begitu banyak istilah maupun ‘label’. Lantas bagaimana caramu memandang dirimu sendiri?

Untuk saat ini aku melihat diriku sebagai seorang transpuan, transwoman, transgender. Well, it’s the same thing. Aku adalah seorang transpuan dan aku bangga akan itu. I’m owning it.

  • Deskripsikan makna ‘tabu’.

Tabu menurutku ada berbagai macam. Dan yang paling general yang dapat aku deskripsikan adalah mengenai nilai yang tidak sesuai dengan yang dianut oleh masyarakat. Tidak sesuai dengan norma mereka. Dan aku tabu hahaha. Maksudnya aku ‘tabu’ di mata masyarakat, of course.

  • Momen tidak terlupakan dalam hidup yang membuatmu bangkit.

Sejauh hari ini, yang selalu aku jadikan sebagai acuan adalah kedua orang tuaku. Dimana mereka bisa menerima apapun kondisiku. Aku selalu ingat ibuku pernah berkata “yang terpenting kamu paham apa yang kamu lakukan. You know your value. You know your worth. You know things that you’re doing sama sekali tidak merugikan dan memberatkan siapapun, then just go for it.

Blessings dari mereka yang sampai sekarang sungguh berarti bagiku. Bahkan, aku masih teringat jelas saat pertama aku ‘came out’ ke ibuku, she told me this: “sekarang kamu adalah seorang wanita. Jadilah wanita yang penuh integritas. It is hard to be women and you know that kind. Maka dari itu, jadilah wanita yang penuh integritas dan bertanggung jawab ke diri sendiri.” Itu yang sampai hari ini aku jadikan pegangan.

  • Detik ini, menurutmu apakah kamu telah berhasil mengatasi rasa insecurity?

Kembali lagi, aku selalu bilang self-love adalah proses pembelajaran seumur hidup. Mungkin hari ini aku sudah bisa overcome bentuk rahangku. Bisa jadi besok-besok aku tidak suka sama hidung, mata atau rambutku. Dan itu masih bicara sebatas appearance. Belum kita bicara soal inner-self, mindful dan personality.  

Tetapi selama kamu mencoba untuk bisa menerima diri sendiri — karena sampai mati pun manusia tidak akan bisa berdamai dengan dirinya sendiri — selama kamu tahu dan kamu terus mencoba dan mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri, that’s more than enough. At least kamu menjalani proses tersebut. Dan, itulah kita manusia. Tidak pernah puas. And actually its fine, yang penting kamu tahu dan kamu terus mencoba.

  • Bagaimana awalnya kamu menemukan passion di bidang modeling?

I always wanted to be a model since SMP. Tapi saat itu aku masih berwujud lelaki, and what I wanted was to be a female model. Sepertinya tidak mungkin. Through this and that, long story and process, finally here I am. Dari kecil aku suka difoto, anaknya narsis kalau di depan kamera.  Tetapi sebenarnya hari ini pun aku belum bisa dibilang sebagai seorang model profesional. Karena aku belum terikat agency manapun. Mungkin belum ada agency yang cukup berani untuk merepresentasikan aku sebagai seorang model transpuan. Selama ini aku ambil job juga belum ada yang bersifat profesional, seperti majalah atau billboard. Am I a model right now? I don‘t know hehe.

  • Ceritakan mengenai awal ketertarikanmu pada seni (seperti menulis puisi, menggambar, etc).

Ketertarikan sebenarnya dari kecil. Suka sekali curhat melalui journaling. Namun, saat menyadari tulisanku bisa diterima banyak orang adalah di tahun 2018. Ketika itu ada seorang dosen yang sering melihat karya-karyaku. Lalu saat itu dia bilang “kamu coba deh masukkin ke pameran.” Ya sudah aku iseng submit puisi dan salah satu lukisanku untuk sebuah acara pameran dan diterima. Dan akhirnya menjadi bagian dari pameran tersebut. Saat itu aku sadar bahwa tulisan dan karyaku ternyata bisa diterima oleh banyak orang.

  • Adakah yang ingin kamu katakan ke sosok dirimu yang dulu?

Aku ingin ngomong ke sosok Ian di tahun 2014 dan 2015 yang merupakan dua tahun terberat bagiku dan di tahun 2017 di saat aku came out. Masa dimana aku kehilangan banyak orang di hidupku. Karena ada yang setuju dan tidak. Aku hanya ingin bilang “Ian, terima kasih banyak kamu tidak pernah menyerah. Thank you for not giving up on me, on your dreams, on everything that you really want. It must be very painful to loose a lot of people in your life. Even orang-orang yang benar-benar kamu percaya. Terima kasih banyak kamu tidak pernah menyerah dan kamu terus berjuang untuk kebahagiaanmu, fighting for your dreams since a little. Aku Ian dari masa depan dan ini hasil dari kerja kerasmu. Hasil dari perjalananmu untuk tidak pernah menyerah. Jadi teruslah berjalan dan teruslah maju karena ada hasilnya nanti.  

Thank you so much for not giving up on me and your dreams. Love you Ian J

  • Siapa sosok paling cantik dalam hidupmu?

Mungkin jawabannya klise. Its my mom. Cantik itu relatif dan bukan selalu mengenai appearance. Menurut gue, beliau cantik karena berhati besar. As simple as that.

  • ‘Warna’ apakah dirimu? Sertakan alasannya.

Yang selalu aku gunakan di setiap karyaku itu warna merah. Merah represents love, passionate, braveness. On the other hand, merah juga merupakan simbol dari tanda bahaya. Sama sepertiku. Dimana aku terlihat full of love, passionate and brave. But on the other hand, aku juga punya sisi berbahaya itu sendiri. Seru ya haha.  

Honestly I grew up hating red. Tapi tiba-tiba pas besar jadi into warna merah itu sendiri.

  • Darimu untuk mereka yang masih bergumul dengan rasa insecurity ____________ (fill the blanks)

Menurut aku rasa insecurity harus ‘dimiliki’ terlebih dahulu. Misalnya, kamu tidak suka rahang atau bulu-bulu di tanganmu. Kamu harus own itu dengan terima bahwa okay gue memang buluan, rahang gue memang kotak, gue memang seorang transpuan dan bukan wanita secara psikologis.

Lambat laun saat kamu mulai menerima. Itu sebenarnya adalah proses awal untuk bisa berdamai dengan diri sendiri. Bisa karena terbiasa. Dan menurut aku tidak ada yang perlu dibenci di diri sendiri. Karena dirimu adalah dirimu. Dia bisa menjadi your best friend or your worst enemy. Jadi langkah awal, mulailah menerima dan kemudian berdamai dengannya. Gue memang seperti ini. And then what so what.

  • Seorang wanita itu cantik ketika ia _________________ (fill the blanks)

Tahu apa yang dia mau. Ketika ia bekerja keras untuk mencapai kemauannya tersebut.

***

Teks Ria Iskandar

Foto & video dok. Cantika Abigail

subscribe to
our news & promotions

Thank you! Your submission has been received!
Oops! Something went wrong while submitting the form.

Call Center I (09.00-17.00) 081197101822

Call Center II (07.00-21.30) 081113014832

Call Center Makassar 081113018019

© Ruhee
Konsultasi via WhatsApp
Ruhee JakartaRuhee Makassar